Manchester City tentu menikmati kemerosotan Manchester United selama 13 tahun terakhir. Dibawah ini Anda akan melihat informasi mengenai sepak bola menarik yang telah dirangkum oleh FOOTBLING THINGS.

Setiap penggantian pelatih di Old Trafford yang gagal selalu menjadi bahan ejekan bagi pendukung City. Julukan sarkastik seperti “jenius sepakbola” untuk David Moyes atau “badut” untuk Erik ten Hag menjadi bagian dari kebiasaan mereka di tribun.
Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya manajemen transisi yang tepat. United seringkali gagal karena tidak ada kesinambungan, mulai dari strategi klub hingga manajemen pemain. Setiap pelatih baru mewarisi masalah lama dan tekanan tinggi dari penggemar, sehingga kesalahan satu langkah bisa menjadi bencana.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
City tentu belajar dari hal ini. Guardiola meninggalkan warisan taktik, pemain top, dan struktur klub yang stabil. Pengganti sang manajer legendaris harus mampu menjaga kontinuitas tanpa membuat kesalahan fatal, berbeda dengan kondisi yang dihadapi Moyes atau Van Gaal saat mengambil alih United.
Tantangan Penerus Guardiola
Meski kontrak Guardiola masih berlaku hingga 2027, City sudah mulai mempersiapkan penggantinya. Klub dilaporkan dua kali menghubungi Enzo Maresca, namun negosiasi berakhir dengan perpisahannya dari Chelsea. Guardiola sendiri meminta City untuk “bersiap” menghadapi kepergiannya, yang berarti transisi harus direncanakan matang.
Berbeda dengan United, City mewarisi skuad muda, eksekutif berpengalaman, dan keuangan sehat. Klub Abu Dhabi ini memiliki proyek jangka panjang yang stabil, sehingga pengganti Guardiola tidak akan menghadapi kekosongan struktur seperti yang terjadi di United setelah Ferguson.
Namun, mencari pengganti Guardiola tetap menjadi tantangan besar. Siapa pun harus mampu menyesuaikan diri dengan filosofi permainan, mempertahankan rasa hormat pemain, dan menjaga standar kemenangan tinggi. Kesalahan sekecil apa pun bisa mengganggu kestabilan klub.
Baca Juga: Ruben Amorim Pergi dengan Senyum dan Pesangon Fantastis
Kandidat Calon Pengganti

Luis Enrique menjadi salah satu kandidat utama. Ia mampu menjaga disiplin tim sambil menyesuaikan diri dengan karakter pemain, seperti yang dilakukan terhadap Messi dan Mbappe di masa lalu. Enrique juga dikenal mampu memaksimalkan potensi pemain muda seperti Ousmane Dembele, menunjukkan kemampuan transformasi yang tinggi.
Xabi Alonso juga menjadi opsi menarik karena kemampuan taktisnya. Namun, reputasinya dihadapkan pada tantangan pemain superstar mungkin sulit dikendalikan jika ia terlalu otoriter. Vincent Kompany, meski menarik secara emosional, masih terlalu dini untuk menangani tim sekelas City.
Sementara itu, Maresca memiliki pengalaman dengan skuad City dan gaya permainan Guardiola, tetapi catatan kepemimpinannya di Chelsea menimbulkan keraguan. City perlu berhati-hati agar tidak salah langkah, mengingat sejarah kegagalan United dalam memilih pelatih pengganti legendanya.
Kunci Kesuksesan Transisi
Siapa pun yang menggantikan Guardiola tidak diharapkan menandingi rekornya. Fokus utama adalah menjaga kesinambungan, stabilitas tim, dan filosofi permainan yang sudah ada. Transisi yang gagal bisa berdampak besar, seperti yang dialami United bertahun-tahun.
City harus mengutamakan keseimbangan antara visi jangka panjang dan kemampuan pengelolaan pemain. Pelatih baru harus mampu menyesuaikan diri dengan skuad superstar tanpa mengorbankan identitas permainan klub.
Sejarah United mengajarkan satu hal kesalahan dalam memilih pengganti legendaris bisa menghancurkan klub selama bertahun-tahun. City harus belajar dari itu agar era pasca-Guardiola tetap gemilang dan tidak tergelincir seperti tetangganya. Jangan lupa ikuti footblingthings.com untuk mengetahui informasi berita bola menarik lainnya.
