Kekalahan besar Real Madrid dari Benfica di Liga Champions bukan sekadar hasil buruk dalam satu pertandingan. Laga tersebut membuka kembali luka lama yang selama ini berusaha ditutupi. Kylian Mbappe secara terbuka menyebut kekalahan itu memalukan, sementara Jude Bellingham mengaku sulit mencari kata-kata untuk menjelaskan apa yang kembali terjadi di atas lapangan.

Bagi Real Madrid, rasa sakit itu semakin dalam karena pola kekalahan ini terasa berulang. Situasi serupa sudah beberapa kali terjadi dalam beberapa musim terakhir, terutama saat menghadapi lawan yang mampu menguasai lini tengah. Kekalahan ini bukan lagi soal hari buruk, tetapi sinyal adanya masalah struktural.
Selama ini, klub kerap berlindung di balik alasan cedera pemain dan kelelahan fisik. Namun hasil melawan Benfica mengubah sudut pandang internal. Untuk pertama kalinya musim ini, perhatian tidak hanya tertuju pada pemain dan pelatih, tetapi juga pada arah kebijakan manajemen klub.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Hilangnya Fondasi Kuat di Lini Tengah
Dalam tiga tahun terakhir, Real Madrid kehilangan tiga sosok penting sekaligus di lini tengah, yakni Casemiro, Toni Kroos, dan Luka Modric. Kepergian mereka bukan hanya soal pergantian pemain, melainkan hilangnya fondasi permainan yang selama bertahun-tahun menjadi kunci kesuksesan.
Trio tersebut adalah otak permainan Real Madrid saat meraih empat gelar Liga Champions dalam lima musim. Ketika Kroos dan Modric masih tersisa, Madrid sempat meraih satu trofi lagi pada 2024. Namun setelah itu, performa Eropa mereka menurun drastis.
Absennya figur pengendali tempo membuat Real Madrid sering kehilangan keseimbangan. Lini tengah tidak lagi mampu menenangkan permainan saat ditekan, sehingga pertahanan mudah terekspos dan lini depan kesulitan mendapatkan suplai bola yang ideal.
Baca Juga: Manchester City Pesta Gol! Haaland dan Cherki Tampil Jadi Pembeda
Manajemen Mulai Mengakui Kesalahan Perencanaan

Laporan dari media Spanyol menyebut manajemen Real Madrid akhirnya mengakui bahwa rencana regenerasi lini tengah tidak berjalan sesuai harapan. Presiden Florentino Perez dan jajaran petinggi klub menerima kenyataan pahit tersebut.
Sebelumnya, kegagalan lini tengah sering dikaitkan dengan peran pelatih. Carlo Ancelotti hingga Xabi Alonso sempat disebut belum mampu memaksimalkan potensi pemain muda. Namun setelah tiga pelatih berbeda menghadapi masalah yang sama, kesimpulan akhirnya mengarah pada kesalahan perencanaan.
Pengakuan ini menjadi titik penting dalam evaluasi internal klub. Tekanan besar dari hasil buruk di Eropa memaksa Real Madrid untuk bersikap lebih jujur terhadap kondisi skuad mereka saat ini.
Investasi Mahal yang Belum Memberi Jawaban
Real Madrid sejatinya tidak diam di bursa transfer. Klub telah menghabiskan dana besar untuk mendatangkan Jude Bellingham, Aurelien Tchouameni, dan Eduardo Camavinga dengan total biaya mencapai 238 juta euro. Fede Valverde juga diharapkan menjadi pilar utama.
Namun, investasi tersebut belum menghasilkan penguasa lini tengah seperti yang diharapkan. Bellingham tampil impresif, tetapi perannya lebih efektif saat bermain lebih menyerang. Sementara itu, Tchouameni dan Camavinga masih belum konsisten dalam mengontrol permainan.
Kondisi ini membuka peluang Real Madrid kembali aktif di bursa transfer musim panas. Meski manajemen menilai skuad tetap berkualitas di bawah arahan Alvaro Arbeloa, satu kesimpulan kini semakin jelas, masalah terbesar Los Blancos masih berpusat di lini tengah. Jangan lupa ikuti footblingthings.com untuk mengetahui informasi berita bola menarik lainnya.
